Warna-Warni Pengalaman Hidup Ni Wayan Murni

Rani R. Moediarta, Pesona, November 2007

 

Warna-Warni Pengalaman Hidup Ni Wayan Murni. Siapa pun yang berkunjung ke Ubud, Bali, tentu pernah melewati Murni’s Warung. Warung ini menempati lahan dengan lanskap alam khas Ubud – pas di lekukan sungai Campuhan bersisian dengan tebing yang di bawahnya mengalir sungai dengan -derasnya. Alam asli Ubud yang terpelihara ini menjadi bagian dari eksterior Murni’s Warung.

Sambil duduk menikmati hidangan di teras terbuka yang menghadap tebing, para tamu bisa menikmati udara sejuk pegunungan, dihibur suara aliran air. Berbagai koleksi barang seni dan antik melengkapi interior warung yang dibangun bertingkattingkat di bibir tebing ini. Paduan antara keasrian alam dan tradisi rumahan selalu menggugah keinginan orang untuk singgah dan mungkin kembali lagi. Pemiliknya, Ni Wayan Murni, berpenampilan sederhana,
bersuara lembut, bertutur kata halus, namun terasa tegas dan berwibawa.

Saat ditemui oleh PESONA, Murni sedang sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke San Francisco guna mengikuti Arts of Pacific Asia Show, pameran internasional yang diikuti oleh para kolektor tingkat dunia.

NOSTALGIA UBUD

Sosok Murni memang lekat de-ngan Ubud. Boleh dibilang, perkembangan Ubud tak lepas dari usaha Murni dan kawan-kawannya. Dari ingatan yang di-sampaikannya, terkesan berbagai kenangan masa lalunya berkaitan dengan kondisi Ubud separuh abad yang lalu.

Perpisahan kedua orang tuanya membuat Murni menumpang hidup pada seorang bibinya yang tinggal di Denpasar. Ia mengenang masa itu sebagai masa yang amat berat. Ia baru berusia 6 tahun tapi harus bangun pukul 2 dini hari untuk membuat penganan yang dijajakannya pagi harinya sebelum ke sekolah. Pada usia 12 tahun, barulah ia bergabung dengan ibu kandungnya. Namun, kehidupan tidak bertambah ringan.

Di Ubud, ia tinggal bersama keluarga besar – lebih dari 20 orang. Selain nenek dan ibunya, di rumah itu ada paman, bibi, dan para sepupu. Sebagaimana rakyat kebanyakan, mereka selalu makan seada-nya dan setiap orang diberi tugas untuk mencari tambahan penghasilan. Maka sejak kecil, Murni sudah biasa menjunjung batu atau mengangkut pasir untuk dijual. “Semua orang melakukannya di zaman susah itu,” katanya.

Sungai Campuhan waktu itu adalah sumber penghidupan warga Ubud. Selain batu apung untuk dibuat paras (dekorasi bangunan) dan pasir, sungai itu juga memberikan pangan ikan dan udang. “Ikan ditangkap dengan bubu. Sedangkan udang, dapat ditangkap dengan tangan,” kenang Murni. Namun ‘makanan mewah’ seperti belut, ikan, udang, atau tiram dari sungai itu tidak pernah mereka nikmati. Perolehan itu harus disetorkan kepada sang Nenek.

“Dengan masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung yang sobek-sobek, Nenek membawa tangkapan kami untuk dipersembahkan di Puri Ubud. Pulangnya, Nenek mendapat sekitar 2-3 kilogram beras. Itulah jatah kami untuk sebulan. Ya, beras itu cukup untuk 20 orang dalam sebulan, karena yang ditanak setiap harinya hanya segenggam, dicampur dengan nangka muda atau jantung pisang yang dicincang halus. Bila ada ubi untuk mencampur beras, wah itu makanan -mewah!” Murni mengenang.

Hanya pada hari raya Galungan mereka bisa menikmati daging babi atau ayam. “Satu ekor ayam bisa untuk lauk kami 20 orang, selama tiga hari!” Kehidupan berat itulah yang dirasakannya memperkaya hidupnya.

OTODIDAK DAN PENDOBRAK

Tempat strategis itu awalnya hanya dipinjamkan dan disewakan kepadanya. Pelan-pelan, dengan menyisihkan penghasilan warung, Murni akhirnya bisa membelinya. Sejak membuka warung pertama kali di tahun 1974, Murni tidak sekadar menjamu para tamu, tapi juga menjalin persahabatan dengan mereka. Sebagian dari tamu datang dari mancanegara dan menjadi teman serta pelanggan tetap warungnya. Beberapa bahkan bekerja sama dengannya.

Pada tahun 1992 Murni merenovasi warungnya besar-besaran, tapi ia tetap mempertahankan cirinya sebagai warung rumahan dengan nuansa tradisio-nal. Dia tak ingin merombaknya menjadi restoran bernuansa modern.

Dari warung ini Murni memiliki jaringan teman-teman yang tersebar di Amerika dan Eropa. Mereka itu pula yang mendorongnya untuk melakukan perjalanan ke mancanegara. Sejak tahun ‘70-an Murni telah menjelajahi Amerika, Eropa Barat dan Timur, juga Afrika. “Saya hanya tamatan SD. Namun perjalanan ke luar negeri banyak memberi saya pendidikan. Sekolah saya adalah kegiatan perjalanan itu. Saya belajar dari soal disiplin, bergaul, bersosialisasi, dan menghargai pusaka leluhur. Pandangan hidup saya terbentuk dari perjalanan yang telah 30 tahun saya lakukan,“ kisahnya.

Murni dengan rendah hati menceritakan bahwa awalnya ia tidak tahu apa-apa tentang benda seni dan pusaka. Teman-temannyalah sumber pengetahuannya. “Misalnya soal barang-barang pusaka -kita, saya justru belajar dari orang Jerman dan Belanda yang banyak mengoleksi barang-barang leluhur kita. Saya termangu ketika mereka bercerita tentang keindahan kain dari Singaraja misalnya, yang sebelumnya sebagai orang Bali saya sendiri tidak terlalu peduli.”

Kini koleksi benda antik Murni tak terhitung banyaknya sehingga ketika ditanya koleksi apa yang paling bermakna buatnya ia hanya menggeleng. “Terlalu banyak! Yang lebih penting bagi saya adalah memberikan kepedulian dengan memberikan apresiasi.”

Untuk memuaskan kesenangannya pada benda-benda seni dan pusaka, Murni rajin mengunjungi pameran di mana-mana. “Boleh dibilang setiap tahun saya pergi untuk keperluan itu. Saya hanya datang untuk melihat-lihat. Bila ada yang saya suka dan mampu saya beli, ya saya beli.”

Selain itu, Murni juga seorang pendobrak. Sebagai remaja putri yang dituntut berbakti kepada orangtua, Murni tak bisa menolak ketika ia dijodoh-kan dengan seorang lelaki yang masih terhitung saudara, pada usia 16 tahun. Namun perkawinan yang memberinya empat anak – tiga putra dan satu putri itu tidak berjalan mulus. Ia mengenangnya sebagai pengalaman pahit. Karena, meski sudah bekerja keras menghidupi ke-tiga anak dan menjadi istri yang berbakti, toh ia merasa tidak diperlakukan dengan baik. Ia pun mengambil keputusan yang langka pada zamannya: meninggalkan suami dan berjuang mencari penghidupan sendiri.

Ia kembali mendobrak nilai lama dengan menjalin kasih dengan seorang kulit putih, Patrick Moore Scanland, salah seorang pelanggan warungnya, yang kemudian menjadi suaminya sampai sekarang. Pada zaman itu, menikah dengan orang luar Bali, terlebih seorang asing, masih dianggap melanggar adat dan secara sosial dipandang rendah. Tapi Murni menempuh risiko itu dan lebih menuruti kata hatinya. Mereka menikah di Singapura tahun 1975. Dari perkawinan kedua ini ia mendapatkan anak kelima, seorang putri.

JIWA WIRAUSAHA

“Entah apa yang membuat saya dan kawan-kawan berani mencoba,” kenang Murni tentang awal ide memperkenalkan barang seni Ubud keluar Ubud. Waktu itu Ubud belum terlalu dikenal dunia luar. Di Bali pun belum ada bandara internasional. Sesekali hanya ada kapal laut dari luar negeri bersandar di pelabuhan Padang Bai dan Benoa. Namun, kampung Murni, Penestanan, merupakan kediaman para seniman lukis terbaik di Bali, sejak dulu dan kini. Dengan mengayuh sepeda, -Murni dan beberapa kawan perempuannya nekat menemui para tamu dari luar negeri untuk menjajakan hasil seni dari Ubud.

“Di boncengan belakang, kami membawa patung, kain bali, dan lukisan-lukisan. Yang mendorong saya adalah tekad. Saya selalu menguatkan hati: saya harus berhasil! Mungkin pendorongnya tak lain adalah kehidupan waktu kecil dan sebagai anak tunggal, saya ingin berbakti kepada keluarga yang hidup susah.”

Ketika Ubud mulai dikenal dan turis mulai berdatangan, Murni banting setir dengan membuka warung. Pelan-pelan ia mulai melihat kebutuhan pasar: makanan bagi turis asing. Itulah awal berdi-rinya Murni’s Warung. Jembatan di depan warungnya menjadi saksi bagaimana dia dulu, dalam keadaan hamil besar, pukul 4 pagi menunggu bemo, satu-satunya kendaraan untuk berbelanja keperluan warung ke Denpasar – bahkan ia harus berganti kendaraan tiga kali. Pukul 8 pagi, ia kembali ke Ubud dengan menenteng belanjaan. Begitu setiap hari. Dan, karena saat itu belum ada listrik maupun air PAM, air untuk keperluannya memasak dan mencuci pun harus diangkut dari sungai.

Sejak kecil Murni memang terbiasa membuat penganan dan menjajakannya. Tetapi tahu apa Murni soal makanan yang disukai orang asing? “Modal saya adalah tidak malu bertanya dan senang belajar. Pelanggan yang mengajari saya memasak makanan yang mereka suka.“

Murni juga membuka dua toko cenderamata, bersebelahan dengan warungnya. Bisnisnya yang lain adalah properti. Namun menurutnya belum berkembang seperti yang diinginkannya karena wisata di Bali secara umum belum pulih. Warung dan tokonya hingga kini masih dikelola langsung olehnya.

Menjalankan tradisi sebagai wanita Bali memang diakuinya berat, karena wanita Bali dituntut untuk mengerjakan banyak hal. Mulai dari melayani keluarga, membereskan rumah, dan mengikuti ritual keagamaan yang menuntut ba-nyak waktu dan tenaga. Dan bagi Murni sewaktu muda, harus ditambah dengan banting tulang mencari nafkah. “Mungkin, bila saya hanya fokus mengelola warung, -saya bisa bosan atau lelah karena yang namanya pekerjaan, selalu ada stres. Nah, dalam hal ini, kegiatan seremoni dan tradisi menyeimbangkannya. Makin lama saya makin menikmati menjadi orang Bali dan menghayati tuntutan adat Bali.”

Bagaimanapun, ia sering merasa hidup di dua dunia. “Di satu sisi, saya menjalani dan menikmati semua se-remoni adat dan sosialisasi di komunitas saya sebagai orang Bali. Untuk itu saya harus berperan sebagai perempuan, ibu, dan nenek yang orang Bali. Di sisi lain saya bekerja mengelola warung dan menikmati pertemanan dan pergaulan internasional. Saya mesti memberi waktu
bagi teman-teman baru, seperti kolektor, tamu, wartawan, dan bepergian ke luar negeri.”

Kini, pada usia senja ditemani suaminya, hidupnya terbilang mapan. Usaha warungnya berkembang. Ia pun kerap melanglang buana. Teman dan rela-sinya tersebar di seluruh dunia. Ia juga memiliki peluang menyalurkan hobinya mengoleksi benda seni dan pusaka. Murni juga masih sempat menyalurkan bakat seninya dengan bermain gamelan. Anak-anaknya sudah mapan dan memberinya 10 cucu. Masih adakah yang ingin dilakukannya?

“Saya masih ingin terus bisa traveling!” jawabnya spontan. Dan matanya menerawang oleh hasrat yang tampaknya belum akan padam dalam waktu dekat.

Warna-Warni Pengalaman Hidup Ni Wayan Murni