Heroines of Balinese Cuisine – Srikandi Kuliner Bali
Peran Perempuan dalam Pembangunan Kepariwisataan
by Putu Sucita Yanthy
Cakra Media Uatama, 2021
Ni Wayan Murni
Wayan Murni adalah salah satu pioner kuliner Bali di Ubud. Dedikasinya diwali tahun 1974 dan usahnya yang terkenal dengan nama Murni’s Warung telah dan tetap menjadi bagian dari perkembangan pariwisata Ubud dalam hampir lima dekade. Sebagai mother of Ubud, Murni telah menunjukkan bahwa peempuan memliki kesempatan untuk mejadi seorang perimpin dan sosok yang menginspirasi. Sekitar tahun 1960-an berjualan kain dari Ubud ke Sanur dengan berspeda. Ia biasa berjualan di Sanur sektiar kawasan Bali Beach tidak setiap hari ia datang ke Sanur, hanya ketika ia mendapat kabar bahwa ada wisatawan yang datang begitupun di Ubud. Warung Murni pada awalnya menyajikan sandwich, nasi goreng, dan minuman dingin, untuk memperoleh bahan-bahan tersebut Bu Murni harus ke Denpasar berutama untuk memeli es Ketika listrik masuk Ubud pada tahun 1978, Warung Murni akhirnya bisa menyediakan beer dingin dan memikiki kulkas.
Informasi mengenai Wayan Murni sangat mudah ditemukan karena dalam website resmi Warung Murni tersedia berbagai info dari berbagai sumber tentang Murni. Pada saat penelitian ini berlangsung Bu Murni sedang menjalankan perawatan di Thailand menurut informasi yang didapat dari manajer dan staff di Warung Murni. Untuk tetap menampilkan biografi Wayan Murni maka informasi diperoleh dari para staff dan manajer Murni’s Warung.
Wayan Murni lahir di Penestanan, sebelum emiliki Murni’s Warung. Bu Murni hidup dalam kemiskinan. Bu Murni tidur dikandang babi, ayam, mencari kayu bakar, memanjat pohon kelapa, durian dan mangga. Bu Murni juga bekerja disawh seperti buruh panen padi, mangumpulkan keong sawah, sampai mangangkat pasir dan batu dari sungai Wos, dalam kutipan artikel Murni – A Tourism Pioner oleh Al Hickey pada majalah Bali Advertiser 2011 menceritakan seperti berikut.
During the poverty striken early years of Indonesia’s post was independence in the 1950s, Murni slept with the pigs and the chickens, cut firewood, and climbed trees for coconuts, durians and mangos. She trapped rice paddy eels, river shrimps and catfish and collected snails along the tiny dirt track that was later to becme Jalan Bisma. To help feed the family she helped her father sell a fruit flavoured ice drink (es hlm) from the back of his bicycle. There was also heavy labor, even for small girls, carrying sand and rocks on her head from the river to sell on the road to big trucks rumbling by. (Bali Advertiser, 2011).
Bu Murni sebelum menirikan warung Murni adalah seorang penjual kain di Sanur, tahun 1960-an Bu Murni memiliki tiga warung sekaligus yang menjual tekstile dan barang-barang antik. Bu Murni merintis usahanya tidak dimulai dari usaha kuliner yang sangat populer dikalangan wisatawan mananegara ini tetapi berawal dari menjual kain-kain sarung Bali dan benda-benda antik yang dikumpulkannya.
Kadek Santosa, manajer Murni’s Warung juga menyampaikan hal yang sama pada mulanya Bu Murni tidak secara khusus membuka warng makan seperti sekarang. Menurut caritanya, Bu Murni dulu mengontrak tanah di dekat jembatan, ia berjualan macam-macam di warungnya. Hingga akhirnya Bu Murni bertemu Patrick Moore Scanland yang kemudian menjadi suami kedua Bu Murni. Bu Murni menbeli tanah yang dikontraknya dan membuka Murni’s Warung hingga sekarang ini. Warung menjadi sangat rami dan dikunjungi oleh orang-orang yang datang dari berbagai penjuru dunia,bahkan Janet de Neefe juga menulis Warung Murni adalah tempat di Ubud sering didatangi saat melakukan penelitian tentang makanan Bali.
The Jakarta Post tahun 2001 menyebut Ibu Murni sebagai ‘The Mother of Ubud’ dalam Artkel ini diungkap bahwa semua orang yang datang ke Ubud pasti kenal dengan Bu Murni dan tentu saja makanan yang disjikan di warung yang bagi wisatawan adalah obat bagi wisatawan yang mengalami home sick. Dalam artikel ini Rob Goodfellow menulis:
By the mid-1970s Murni had returned to Ubud where she created the first real restaurant in the area – Murni’s Warung. Ever since it has been one of the places to go in Bali. Today Murni’s Warung employs over 60 staff and continues to serve patrons from all over the world. It has been called the most romantic restaurant in Ubud.
Warung Murni adalah tempat berkumpulnya para wisawatan pada waktu inu, tidak hanya digemari oleh orang lokal warungnya juga dikunjungi oleh para seniman, penulis, pelukis yang diantaranya adalah Charlie Chaplin, Noel Coward, Barbara Hutton, the Woolworths’ heiress, Colin McPhee, the ethno-musicologist, Jane Belo, anthrpologist, Vicki Baum novelist, Margaret Mead, Gregory Bateson anthropolgists. Pada buku yang berjudul Forty Delicious Years 1974-2014 tercatat 40 tokoh yang bebicara tentang Murni’s Warung dua di antaranya adalah Professor Michael Hitchcock dan Janet de Neefe yang mengungkapkan kesannya terhadap Ibu Murni dan Murni’s Warung.
Murni’s Warung
Warung Murni dibuka sejak tahun 1974 terletak tepat di timur Jembatan Campuhan dan dibanguntepat di atas Sungai Wos. Lokasi ini dulunya adalah tempat Warung Murni, pemilik Murni’s Warung semasa muda bekerja mengangkut pasir dan batu disungai untuk dibawa kedratan. Murni’s Warung dibangun oleh Wayan Murni yang kemudian diperluas dengan bantuan suaminya Pat, tamilan warung pada awalnya sangat sedrhana. Alat-alat seadanya behkan yang ada hanya meja tempat Wayan Murni meletakkan barang dagangannya.
Warung Murni memang diakui sebagai pelopo pariwisata Ubud menurut Anak Agung Brahmantya Kepala Dinas Pariwisata Gianyar.
Murni’s Warung adalah salah satu warung yang menginspirasi perkembangan warung makan dan restoran di Ubud, ada Warung Teges, dulu berlokasi di depan Puri Ubud, tapi yang banyak didatangi wistawan kala itu ya Murni’s Warung yang punya standar internasional.
Anak Agung Brahmantnya mengungkapkan kehadiran Murni’s Warung telah meninspirasi perkembangan kuliner di kawasan Ubud. Sebagai warung dengan standar internasional warung Murni telah berhasil mengharirkan kuliner-kuliner Bali yang disajikan lebih menarik dan kue-kue ala Barat. Janet de Neefe menuliskan dalam bukunya menu-menu Warung Murni mengingatkan masakan rumahnya bila pada waktu tertentu ia sangat ingin makan makanan dengan menu western dan hanya Murni yang dapat membuatkannya.
Kuliner yang disajikan beragam seperti kuliner khas Bali, yaitu ayam betutu Murni dan nasi campr Murni serta berberapa kuliner khas seperti Tomyam dan kreasi Ibu Murni sendiri yang enyajikan pilihan kuliner nusantara. Panorama Sungai Campuhan dapat langsung dinikmati karena warung ini yang semula hanya dibangun satu lantai untuk warung dan gallery kini bangunan tersebut terbagi menjadi tiga lantai lagi, yaitu Dining Bar dan Lounge serta satu bangunan Dining terpisah yang langsung menghadap ke sungai. Warung yang dibuka dari pukul 09.00 sampai 11.00 malam tampak sangat antik karena dihiasi oleh ornamne-ornmane yang membangkitkan kesan klasik. Berberapa patung antik juga menghiasi bengunan warung ini. Salah satunya patung Ganesha dengan tinggi mencapai 2 meter yang dipanjang di lounge menambah kesan klasik dan religius.
Warung dengan kapasitas 100-150 orang dilengkapi dengan fasilitas wifi, begitu juga beberapa lokasi untuk berfoto sehingga sering juga dijadikan sebagai tempat untuk pengambilan foto prewedding oleh berberapa pasangan yang meikah di Bali. Munurut Kadek Santosa, manajer Warung Murni, pengunjung yang datang sebagian besar adalah wisatawan yang merupakan sahabat atau kolega Ibu Murni sendiri yang berasal dari berbagai negera seperti Australia, Thailand, Ingris, dan China, pada buku yang ditulis untuk memperingati 40 tahun Warung Murni, 40 orang sahabat diantaranya Professor Michael Hitchcock dand Jero Asri Keryhyasa. Begitu juga pengungjung lokal terlihat tidak sedikit datang serta menikmati sajian kuliner dan tentunya gallery benda-benda antik koleksi Ibu Murni.
Ketika memasuki lantai satu Warung Murni, hal pertama yang dapat dinikmati adalah pemandangan Sungai Campuhan. Kue-kue khas Warung Murni juga tertata tentu sangat menggugah selera untuk dipesan sebagai hidangan penutup. Warung didekorasi dengan benda-benda seni koleksi Ibu Murni, patung-patung dan ukiran pada dinding. Lantai dua adalah lounge yang selasai direnovasi pada tahun 2002. Sebah patung Ganesha yang ukurannya settinggi orang dewasa dihiasa dengan kalung bunga seperti manyambut setiap pengunjung yang datang ke warung. Lantai 3 sering digunakan sebagai tempatuntuk mengadakan acara resepsi pernikahan, pesta ulang tahun dengan kapasitas 50-60 orang. Pada lantai 4, warung dibangun di atas sungai sehinggi suara gemericik air dan pemandangan yang eksotis dari hhijaunya tebing-tebing sungai dapat dinikmati dengan bebas oleh pengunjung yang datang. Sejak berdiri empat dekade. Murni’s Warung sudah berjasa dalam mendukung pariwista Ubud, sambil memperkenalkan jenis-jenis kuliner lokal yang bersanding dengan masakan Barat dan Asia.